Kerugian Pembuat Kue (UMKM) Di Saat Listrik Padam Bergiliran
Oleh: Ahmad Junaidi Effendi - Ketua Umum PUMO Indonesia
Di balik lezatnya sepotong kue yang kita nikmati, ada perjuangan panjang para pelaku UMKM. Mereka bangun sejak dini hari, menyiapkan bahan, mengaduk adonan, memanggang, mengemas, lalu mengantarkan pesanan tepat waktu.
Namun, semua proses itu bisa terganggu hanya karena listrik padam bergiliran.
Bagi sebagian orang, listrik padam mungkin hanya sebatas lampu yang mati. Tetapi bagi pelaku usaha pembuat kue, dampaknya jauh lebih besar.
Adonan yang sedang diolah terpaksa berhenti karena mixer tidak berfungsi. Oven listrik tidak dapat digunakan sehingga jadwal produksi tertunda. Bahan baku seperti mentega, susu, krim, dan cokelat yang membutuhkan suhu dingin berisiko rusak. Es krim dan produk beku bisa mencair sehingga tidak layak dijual.
Akibatnya, pesanan terlambat, pelanggan kecewa, bahkan ada yang membatalkan pesanan. Tidak sedikit pelaku UMKM yang harus mengganti kerugian dengan modal sendiri.
Ironisnya, biaya operasional tetap berjalan. Gaji karyawan tetap harus dibayar, cicilan usaha tetap jatuh tempo, sementara omzet menurun karena produksi tidak maksimal.
Padahal, UMKM adalah salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat. Ketika usaha kecil terganggu, bukan hanya pemilik usaha yang merasakan dampaknya, tetapi juga keluarga, karyawan, pemasok bahan baku, hingga pelanggan.
Karena itu, perhatian terhadap keberlangsungan pasokan listrik bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan usaha dan mata pencaharian banyak orang.
Mari kita lebih menghargai para pelaku UMKM. Jika suatu saat pesanan sedikit terlambat akibat kondisi di luar kendali mereka, berikanlah pengertian. Mereka tidak sedang mencari alasan, tetapi sedang berjuang agar usahanya tetap bertahan.
Semoga ke depan pasokan listrik semakin andal sehingga para pelaku UMKM dapat menjalankan usahanya dengan tenang, produktivitas meningkat, dan roda perekonomian masyarakat terus bergerak. (AJE)